Breaking News

Puisi Ibu Sukamawati

PUISI IBU SUKMAWATI "IBU INDONESIA"


“Aku tak tahu syariat Islam...”
Kalau anda tak tahu, lebih baik bungkam mulut anda. Diam itu lebih baik daripada bersuara tapi terkesan sok tahu. Berisik.

Kami pun tahu anda itu tak tahu syariat Islam, terlihat dari penampilan anda.
Belajar lah Islam yg berbasis iman (faith based) lebih dalam, agar anda paham syariat.
Puisi anda memang terlihat elok dan berseni, tapi menjadi semacam sampah omong kosong karna dibenturkan dengan Syariat Islam.

Anda ini tokoh Nasional yg begitu dikenal di Negara ini, dan anda juga adalah putri dari proklamator sekaligus Founding Father,maka harusnya anda paham, Negeri ini adalah Negara yg berdasarkan Pancasila, urusan cadar, adzan atau apapun yg asalnya dari ajaran Agama, udah dijamin sama undang-undang dasar Negara Indonesia.

Anda gak perlu berlindung dibalik seni puisi bullshit anda itu untuk memprovokasi Indonesia yg sudah sangat kacau dalam bertoleransi ini. Gak perlu anda perparah.
Asal anda tahu, Islam ini gak melarang seni termasuk puisi dan seni mengolah kata (kalam).
Tapi kami tahu aturan, tahu batasan.

Kalau kita tengok sejarah, kita akan tahu kalau kesenian juga punya banyak peran dalam Agama. Hampir gak ada Agama yg gak punya ekspresi seni, mulai dari tembangannya, nada, mantra, sampai Adzan dan qira’at-qira’atnya.
Adzan itu juga seni asal anda tahu.

Tapi anda dengan begitu mudahnya mengatakan kalau kidung itu lebih merdu dari Adzan. Anda tahu apa?
Gak sembarang orang bisa jadi Muadzin.
Cuma Muslim terpilih yg bisa mengumandangkan Adzan. Muadzin terpilih karena sifat mereka yg baik, suara dan kemampuannya vokalnya yg juga baik.
Kalimat Takbir ini juga lah membakar semangat para pejuang untuk memerdekakan Bangsa ini asal anda tahu.
Aku dan Muslim cerdas lain sudah melihat dan mengamati puisi anda dari unsur fisik puisi (intrinsik ) ataupun ekstrinsik, aku berkesimpulan kalau puisi anda ini adalah kegundahan anda atas “penjajahan” budaya Islam yg menggeser eksistensi budaya lokal. Jujur saja, saya pun tidak ingin kalau Islam Arab menginvasi budaya Indonesia lalu bisa saja membuangnya seolah tak pernah ada.

Saya cinta Indonesia, dan saya gak mau itu terjadi. Tapi makna dari puisi anda jelas salah dan fatal. Cadar itu adalah Sunnah Muslimah diseluruh dunia, bukan hanya Arab. Coba anda pelajari lebih jauh soal cadar, maka anda akan paham.

Dan soal kidung yg anda katakan lebih indah dari lantunan Adzan, demi Allah anda sudah menyakiti hati jutaan penganut Muslim di Indonesia termasuk saya.
Kidung itu indah, tapi lantunan Adzan jauh lebih agung, indah, bermakna, artistik, megah, dan juga sakral.

Puisi anda memang menguatkan politik identitas, tapi ironinya malah mengancam Persatuan Bangsa ini dengan kebodohan anda karna membuat puisi SARA tanpa pikir panjang.
Anda gak perlu ikut-ikutan memperkeruh situasi Indonesia yg sudah rusak moralnya dalam saling menghormati antar kepercayaan dan Agama.

Saya tahu maksud anda baik, mungkin untuk mengingatkan kalau Indonesia adalah bangsa besar yg majemuk, yg harus diposisikan di atas segalanya.
Menurut anda, mungkin kecintaan pada Negara dan budaya Indonesia harus melampaui kecintaan atas nilai promodiar macam Agama, syariat, dll.

Padahal budaya sendiri kan bisa berkompromi dengan Agama, malah bisa saling melengkapi.
Ingat satu hal, Islam gak pernah melarang budaya kita, justru mengajarkan untuk mencintai nya.
Saya tahu anda bukanlah Muslimah yg religius, saya bahkan ragu anda ini beragama Islam. Saya belajar berjiwa Nasionalis dari Bapak anda, Soekarno. Saya belajar banyak hal dari beliau tapi tidak pernah dalam urusan Agama. Karna Soekarno berasal dari keluarga Kejawen dan juga Hindu.
Apalagi belajar Agama dari orang yg tidak paham Agama seperti anda.

Anda ini kan budayawati, jadi akan sangat lucu kalau anda berbicara Agama.
Budaya dan Agama punya porsinya masing-masing. Keduanya kita butuhkan. Keduanya berbeda tapi bisa bersama. Dan keduanya ada bukan untuk dibenturkan, ditanding-tandingkan seperti yg anda lakukan.

Jangan jadi provokator, jadilah budayawati yg baik. Jadilah macam Cak Nun, beliau Budayawan, tapi mencintai Agama dan gak pernah membenturkannya.
Loading

No comments