Mencari Tuhan Dalam Diri
Mencari Tuhan Dalam Diri
Entah kenapa belakangan ini menjadi seorang Agnostik dan Atheis dianggap keren bagi banyak remaja, terutama di Facebook.
Ada perasaan kecewa, merasa aneh, jijik, bingung, bahkan sedih yg menjadi satu ketika kamu mengetahui bahwa salah seorang atau beberapa teman akrab yg kau kenal, menjadi seorang Atheis.
Aku kaget ketika melihat profil Facebook gadis itu. Gadis misterius yg dulu begitu akrab denganku walau hanya lewat Facebook, kini malah berubah haluan menjadi seorang gadis tanpa Tuhan dan Agama. Dia bahkan ikut menyebarkan faham Atheisme lewat status-status nya. Padahal dulu dia begitu tertutup menjaga aurat, berasal dari keluarga yg alim.
Ada perasaan kecewa, merasa aneh, jijik, bingung, bahkan sedih yg menjadi satu ketika kamu mengetahui bahwa salah seorang atau beberapa teman akrab yg kau kenal, menjadi seorang Atheis.
Aku kaget ketika melihat profil Facebook gadis itu. Gadis misterius yg dulu begitu akrab denganku walau hanya lewat Facebook, kini malah berubah haluan menjadi seorang gadis tanpa Tuhan dan Agama. Dia bahkan ikut menyebarkan faham Atheisme lewat status-status nya. Padahal dulu dia begitu tertutup menjaga aurat, berasal dari keluarga yg alim.
Aku gak bisa mengajak mereka yg murni ingin menjadi Atheis atau Agnostik karna berpikir, bukan remaja-remaja tidak pintar yg menjadi Atheis demi ikut trend (murtad online kusebut).
Mungkin mereka hanya bersikap rasional dan kritis terhadap Agama dan ketuhanan, seperti rasa kritis/rasional mereka kepada hal-hal macam terhadap teori gravitasi Newton, konsep tata surya, teori Evolusinya Darwin, sejarah G30S/PKI, atau teori kapitalisnya Adam Smith, dll.
Mereka mengingatkan aku saat menjadi seorang Agnostik dan Atheis dulu.
Jadi, proses hijrahku jauh lebih sulit daripada kalian. Aku juga berasal dari keluarga yg taat beragama, gak mau sholat, kena hajar kakek. Tapi sayangnya, aku ini adalah tipe pemikir. Aku selalu berpikir akan banyak hal, termasuk Agama dan Tuhan.
Jadi, proses hijrahku jauh lebih sulit daripada kalian. Aku juga berasal dari keluarga yg taat beragama, gak mau sholat, kena hajar kakek. Tapi sayangnya, aku ini adalah tipe pemikir. Aku selalu berpikir akan banyak hal, termasuk Agama dan Tuhan.
Karna aku sadar akan pentingnya untuk bersikap kritis kepada semua aspek kehidupan. Dan Agama yg merupakan suatu fakta sosial antropologis juga termasuk. Dulu aku beranggapan kalau Agama harus banyak dikoreksi dan dikaji ulang, karna udah terlalu banyak dogma-dogma kejam, doktrin jahat, juga hal-hal supranatural yg gak masuk akal bagiku dalam Islam.
Setelah melalu pergumulan panjang dan lama dalam berpikir, lalu SMP, aku menjadi seorang Agnostik.
SMK, aku adalah seorang Atheis, walaupun harus ngebunglon bahkan jadi anggota remaja Masjid.
Faham atheisme sebenarnya sudah ada sejak Jaman Yunani kuno. Dari Jaman itu, sampai Jaman kegelapan dan Rennaisance, eksistensi Atheisme belum “diakui” sampai muncul orang-orang jenius macam Ludwig Feurbach, Nietche, atau Pierre-Joseph Proudhon yg melanjutkan ide Heraklitos dan Demokritos. Lalu disusul Karl Marx.
Dan Richard Dawkins di Jaman Modern ini.
SMK, aku adalah seorang Atheis, walaupun harus ngebunglon bahkan jadi anggota remaja Masjid.
Faham atheisme sebenarnya sudah ada sejak Jaman Yunani kuno. Dari Jaman itu, sampai Jaman kegelapan dan Rennaisance, eksistensi Atheisme belum “diakui” sampai muncul orang-orang jenius macam Ludwig Feurbach, Nietche, atau Pierre-Joseph Proudhon yg melanjutkan ide Heraklitos dan Demokritos. Lalu disusul Karl Marx.
Dan Richard Dawkins di Jaman Modern ini.
Saat aku jadi seorang Freethinker, aku merasa bebas dari dogmatis Agama yg rigit.
Merasa bebas menjadi manusia seutuhnya, dan bisa menggunakan akal lebih optimal tanpa takut akan Neraka atau terpaksa berbuat baik demi Surga.
Merasa bebas menjadi manusia seutuhnya, dan bisa menggunakan akal lebih optimal tanpa takut akan Neraka atau terpaksa berbuat baik demi Surga.
Aku pun akhirnya sadar kalau menafsirkan teks dan ajaran keagamaan secara literal di zaman modern ini, sangat.. tidak memuaskan. Membosankan.
Dan memilih untuk bersikap kritis juga rasional dengan nilai dan ajaran keagamaan, apalagi yg bersifat dogmatis, irasional, dan udah gak sesuai di zaman modern ini. Aku juga sangat mengapresiasi teori Hawking soal awal mula terciptanya seluruh alam semesta tanpa melibatkan Tuhan di dalamnya, ataupun teori psikologi Freud.
Sialnya saat menjadi Atheis dulu, aku malah berguru dengan para Atheis agresif macam Richard Dawkins, Sam Harris, atau mendiang Christopher Hitchens. Dan fisikawan bernama Prof. Lawrence M. Krauss juga sepertinya udah bergabung dengan para Atheis “ekstrim” ini.
Sebelum kita lanjut, aku punya sedikit pertanyaan tentang Krauss, Atheis modern yg paling membuatku jijik.
Is Lawrence Krauss a Physicist, or Just a Bad Philosopher?
Physicist Lawrence Krauss, who disparages philosophy, acted like a bad philosopher in a recent debate. Dia berulangkali melakukan logical fallacy saat berdebat dengan beberapa Theist, salah satunya adalah debat dia dengan Hamza Tzortzis. Richard Dawkins cs bersikap evangelikal, dalam artian sangat aktif berpropaganda untuk menyebarkan faham Atheisme ekstrim mereka. Sekarang aku lebih senang menyebut mereka dengan Anti Theist dibandingkan hanya sekedar Atheis. Kalau Apateisme artinya adalah ketidakpedulian terhadap Tuhan itu sendiri. Kalaupun Tuhan itu ada ataupun tidak, mereka gak akan peduli. Kalau, berdasarkan antitheisme, Tuhan dan Agama itu harus gak ada dan gak boleh ada.
Mereka bukan hanya skeptis tentang Tuhan dan Agama, tapi menganggap bodoh orang yg punya Agama dan Tuhan.
Mereka bukan hanya skeptis tentang Tuhan dan Agama, tapi menganggap bodoh orang yg punya Agama dan Tuhan.
Karna mereka begitu keras menolak mitos-mitos Agama, metafora, kisah yg ada dalam kitab Agama, parables, iman doa, ritual, dll yg begitu banyak menghiasi kehidupan kaum beragama dan bertuhan.
Ingat satu hal bung, menjadi seorang Atheis, tidak lantas membuatmu menjadi manusia paling cerdas. Jadi, jangan sok pintar dan keren hanya karna kau Atheis. Banyak Theis yg juga sangat cerdas, mereka pemikir, sebut saja Ibnu Sina atau Nicholas Copernicus.
Dan walaupun aku begitu membenci politik dan matematika, tapi aku mencintai Sains.
Sains gak membutuhkan Tuhan untuk menjelaskan teori-teori yg ada.
Sains bisa menjelaskan segala hal tanpa ada unsur Agama dan Tuhan.
Sains membuat manusia semakin maju dan terus berusaha membuka tabir misteri alam semesta, tanpa melibatkan sesuatu yg adikodrati. Tapi sebaliknya, Agama selalu saja baku. Agama gak menyediakan tempat untuk dikritisi, dirasionalisasi, atau diobservasi baik secara ilmiah juga saintifik.
Sains gak membutuhkan Tuhan untuk menjelaskan teori-teori yg ada.
Sains bisa menjelaskan segala hal tanpa ada unsur Agama dan Tuhan.
Sains membuat manusia semakin maju dan terus berusaha membuka tabir misteri alam semesta, tanpa melibatkan sesuatu yg adikodrati. Tapi sebaliknya, Agama selalu saja baku. Agama gak menyediakan tempat untuk dikritisi, dirasionalisasi, atau diobservasi baik secara ilmiah juga saintifik.
Kalau ada yg berani mengkritik Agama dan Tuhan, langsung di cap sesat, murtad, kafir.
Agama selalu bersifat menutup pintu atas keragu-raguan dogma-dogma, karna dogma itu diklaim berasal dari sesuatu yg maha segala-galanya sampai gak bisa dibantah sedikit pun dan oleh siapapun.
Sains selalu membuktikan diri atas pembuktian empiris, observasi dan analisis yg logis juga akurat, tapi klaim kebenaran Agama selalu saja soal iman kepada sesuatu yg bersifat adikodrati yg gak berdasar kepada bukti empiris secara rata, bahkan saat kebenaran itu udah memakai pembuktian dan teori saintifik modern sekalipun.
Itulah yg membuat ku tertarik dengan sains, dan juga Atheisme.
Agama selalu bersifat menutup pintu atas keragu-raguan dogma-dogma, karna dogma itu diklaim berasal dari sesuatu yg maha segala-galanya sampai gak bisa dibantah sedikit pun dan oleh siapapun.
Sains selalu membuktikan diri atas pembuktian empiris, observasi dan analisis yg logis juga akurat, tapi klaim kebenaran Agama selalu saja soal iman kepada sesuatu yg bersifat adikodrati yg gak berdasar kepada bukti empiris secara rata, bahkan saat kebenaran itu udah memakai pembuktian dan teori saintifik modern sekalipun.
Itulah yg membuat ku tertarik dengan sains, dan juga Atheisme.
Tapi sekarang, Alhamdulillah, aku adalah seorang Muslim kembali. Kembali ke Fitrah.
Lewat Filsafat aku kembali menjadi seorang Muslim. Jadi, salah kalau kaum Wahabi bilang Filsafat itu bisa meng-Atheis kan Muslim.
Lewat Filsafat aku kembali menjadi seorang Muslim. Jadi, salah kalau kaum Wahabi bilang Filsafat itu bisa meng-Atheis kan Muslim.
Karna aku sadari satu hal, yaitu baik Atheis dan Theis, sebenarnya tidak bisa membuktikan dengan real soal ada atau tidaknya Tuhan dan Akhirat. Hanya mereka yg sudah mati yg mampu. Aku ingat ada seorang tokoh yg berkata kalau semua hal itu berakhir di kubur. Semua manusia harusmempertanggungjawabkan kehidupannya di dunia secara rasional. Sebab itu, konsep Hereafter (akhirat) menurut ku sangatlah logis dan adil. Dan kalau kita mati, kesempatan itu gak akan datang dua kali. Kalau kita mati, lalu ternyata Tuhan dan Akhirat itu ada, Atheis lah yg paling merugi.
Al-Farabi berkata bahwa hanya ada satu yg Wajib Ada. Yaitu Tuhan.
Dan for centuries, philosophers, religious thinkers and scientists have offered all kinds of proof for the existence of God.
Dan for centuries, philosophers, religious thinkers and scientists have offered all kinds of proof for the existence of God.
Lalu, ada pepatah asal Arab yg juga diyakini adalah Hadits Nabi, yaitu,
Al-dinu huwa al-aql, atau Agama adalah akal. Kalimat ini pun sering dikutip banyak ulama dan pemikir Muslim untuk menegaskan kalau beragama membutuhkan akal supaya manusia gak terjatuh ke dalam taqlid buta yg justru menyesatkan mereka.
Al-dinu huwa al-aql, atau Agama adalah akal. Kalimat ini pun sering dikutip banyak ulama dan pemikir Muslim untuk menegaskan kalau beragama membutuhkan akal supaya manusia gak terjatuh ke dalam taqlid buta yg justru menyesatkan mereka.
Agama bukan cuma akal, tapi adalah produk pikir manusia. Tanpa akal, maka Agama itu gak ada. Cuma makhluk hidup berakal yg punya Agama. Yang membedakan manusia dari makhluk lainnya adalah akal yg mereka miliki. Jadi salah, kalau ada Atheis bilang kalau Agama adalah lambang kebodohan.
Agama adalah hasil pemikiran, lalu dianut jutaan manusia jenius.
Agama adalah hasil pemikiran, lalu dianut jutaan manusia jenius.
Voland dan Schiefenhovel, pernah merumuskan soal hubungan antara Agama dan akal (The Biological Evolution of Religious Mind and Behavior, 2009), seperti, menegaskan nalar Agama (religious mind) adalah hasil dari seleksi alam dan evolusi manusia yg panjang.
Agama sendiri memang adalah lambang kemajuan dalam proses evolusi manusia yg begitu panjang dan kompleks. Dan pada akhirnya, seperti pepatah Arab di atas, Agama adalah akal.
Tidak ada agama bagi yg tak berakal
(la dina liman la aqla lah). Akal adalah pembimbing manusia yg paling alamiah. Tanpa akal, maka Agama jadi tak bermakna.
Tidak ada agama bagi yg tak berakal
(la dina liman la aqla lah). Akal adalah pembimbing manusia yg paling alamiah. Tanpa akal, maka Agama jadi tak bermakna.
Berdikusi soal Tuhan, berarti membincang soal kehidupan.
Dan sebenarnya ada banyak sisi positif dari Agama yg mengajarkan kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan (walaupun sangat banyak umatnya yg tidak menjalankanya).
Dan sebenarnya ada banyak sisi positif dari Agama yg mengajarkan kemanusiaan, perdamaian, dan keadilan (walaupun sangat banyak umatnya yg tidak menjalankanya).
Bagi ku, semua Agama itu suci dan mengajarkan kebaikan menurut caranya masing-masing. Tapi, satu hal yg gak bisa kita tolelir adalah kalau Agama justru malah menjadi semacam tirani yg mencampakkan nilai kemanusian, lalu membuat chaos bagi manusia sendiri. Manusia memang bebas beragama, atau memilih tak bertuhan. Tapi ini sakral dan fatal, pilihan ada di tangan kalian.
Mau menjadi Atheis yg sangat merugi di Akhirat, atau jadi Theis yg punya kesempatan untuk aman di Akhirat?
Mau menjadi Atheis yg sangat merugi di Akhirat, atau jadi Theis yg punya kesempatan untuk aman di Akhirat?
Sekali lagi, jangan dulu bicara soal ada atau tidaknya Akhirat, karna Atheis dan Theis tidak bisa membuktikan nya. Tapi, mengingat banyak nya Hadits dan Firman Tuhan yg membahas Akhirat, tanda-tanda kebesaran Tuhan di bumi ini, apalagi fenomena perihal Kiamat beserta tandanya yg hampir semua telah terjadi, kurasa itu pantas untuk menjadi bahan pertimbangan.

No comments